Minggu, 15 Februari 2009

My Spirit DIRIKU

DIRIKU
Saya, sebenarnya g istimewa. Jalan hidup datar-datar saja, g ada yang terlalu menyenangkan, g ada yang terlalu menyedihkan. Nama saya, Erna Yulida. Saya lahir di kota Amuntai, 10 Oktober 1991, tanggal yang sama dengan Naruto, tokoh kesukaan saya. Kata mama, saat akan melahirkan saya, mama lagi sibuk melayani pembeli di warung yang umurnya hampir 20 tahun itu. Ketika itu, pengunjung lagi ramai karena hari telah sore. Ayah lagi tidak ada, jadi mama akhirnya berbaring dan ketika ayah datang dengan bidan, saya sudah keluar. Kata mama, Erna lebih mudah dilahirkan daripada kakak-kakak. Mungkin karena Erna adalah anak yang ketiga.
Ayah menamai Erna nama yang pendek, Cuma 10 huruf. Alasan beliau memilih nama itu, karena ayah punya murid perempuan yang sangat pandai, namanya Erna Yulida. Ternyata, ayah mengharapkan Erna jadi anak yang pintar. Entahlah, sudah tercapai atau belum. Tapi Erna akan terus berusaha.
Ketika masih umur 3 tahun, mama mengajariku membaca. Beliau memotong huruf-huruf yang besar dan menyuruhku merangkainya sesuai kata yang diucapkan mama. Aneh memang, tapi dengan cara itu, aku bisa membaca. Ketika aku masuk taman kanak-kanak, kakak mengajariku membaca huruf-huruf Arab dan mengajari aku menulis. Andai saja tokoku tidak kebakaran, mungkin bukti-bukti sejarahku berupa potongan huruf dan buku Iqra’ pertamaku masih ada.
Aku sangat bersyukur bisa membaca, karena aku bisa menelpon ayah jika aku ingin pulang dari TK Pembina. Aku bisa membantu teman-teman dengan bercerita dan menuliskan nama mereka di buku tulis. Ketika umur 5 tahun, mama dan ayah merayakan ulangtahunku di sekolah. Aku sangat senang hari itu, dapat banyak makanan, buku, dan mainan dari teman-teman. Aku ingat sebagian teman-temanku, yaitu Caca, Ayu, Rina, Bijirmi, Bayu, Adi, Fefen, Indah, dll. aku juga ingat kepala sekolahku waktu itu, Ibu Erna, sama dengan namaku.
Ketika hari perpisahan, ibu guru memintaku untuk mengucapkan kata-kata perpisahan dalam acara itu. Pada saat itulah, aku mengenal pantun. Pantun pertamaku adalah
Asam pauh dalima pauh
Rama-rama batali banang
Kami jauh sampian jauh
Sama-sama pada mangganang.
Ketika masuk sekolah dasar, aku sangat senang. Karena akan bertemu teman-teman baru. SD ku di SDN Murung Sari 1, tempat ayah mengajar. Namun, ayah hanya bisa bersamaku disekolah selama 2 tahun, karena ayah pindah ke SDN Antasari 2. aku berada di kelas I A. Ibu Guru pertamaku adalah Ibu Mahyuna, seorang ibu yang sangat lembut. Wajar beliau mengajar kelas 1, karena sifat beliau yang penyayang. Di kelas aku bertemu teman-teman yang banyak sekali. Beberapa adalah teman TK ku. Tapi temanku yang paling akrab adalah Gusti Ayu Utami, Fitriyanti, dan Anissa Amelya.
Ketika kelas 3, aku bertemu seorang teman pindahan dari Bandung, namanya Aszafaika Ladidinanda. Orangnya manis dan pintar. Dia adalah anak seorang dokter bedah. Aku sangat senang berteman dengannya, tapi dia pindah lagi ke Banjarbaru, setahun kemudian.
Ketika SD, aku cukup produktif. Ketika kelas 1, aku berhasil menjadi juara 3 lomba membaca syair di PORSENI SD. Begitu pula kelas 3, dan kelas 6, tidak pernah beranjak dari posisi 3. Selain itu, aku juga berhasil meraih juara 2 Lomba Bina Kreativitas Siswa tingkat provinsi. Setelah melewati tingkat kecamatan dan kabupaten. Aku juga berhasil menyabet juara 3 lomba mata pelajaran IPU tingkat kabupaten.
Saat kelas 5, kepalaku sobek. Hal yang paling aku ingat. Saat itu hujan di bulan Ramadhan sore hari. Aku, Syahida, Idang, dan Mudah sangat ingin bermain baingkaan. Jadi kami bermain di depan rumah Idang yang teduh. Lantainya semen dan agak basah. Kami tidak peduli. Saat itu, aku lagi puasa, tapi tetap saja main. Ketika giliranku, aku melompat-lompat dan tiba-tiba terpeleset, dan kepalaku menabrak tembok. Aku tidak merasakan apa-apa, tapi setelah aku memegang kepalaku, ada darah yang tersisa di tanganku. Teman-temanku panic, dan mama Idang mengantarku ke rumah. Padahal waktu itu, mama dan ayah sedang berjualan Bingka. Dan suasana sangat ramai. Ayah langsung membawaku ke RSU dan kepalaku langsung dijahit di ruang UGD. Awalnya aku takut, tapi ternyata rasanya hanya seperti menusuk-nusuk kulit mati. Kepalaku dijahit 5 jahitan, dan bekasnya ada sampai sekarang. Hanya saja tidak keliatan, karena di antara rambut-rambut.
Ketika lulus, aku berhasil mendapatkan nilai tertinggi UAS di sekolah dan berhak mendapatkan hadiah dari bapak Bupati Hulu Sungai Utara Bersama anak-anak dari sekolah lainnya.
Setelah lulus SD, aku melanjutkan sekolah ke MTsN Model Amuntai. Aku berada di kelas 1 A. Ketika masuk, aku menyadari, kalau 1 A adalah kelas unggulan, sehingga banyak sekali teman-teman yang merupakan lulusan terbaik dari sekolahnya. Terhitung 17 orang siswa yang menerima penghargaan Bupati, dan salah satunya adalah Mujiburrahman Saputra, orang yang mendapatkan nilai tertinggi tes masuk MTs. Aku jadi merasa sangat ciut dihadapan mereka.
Akhirnya, karena ketakutanku itu, aku jadi studyaholic dan tidak memperdulikan orang-orang disekitarku. Memang, hal ini membawaku menjadi juara umum 3 tahun berturut-turut, bahkan mendapat nilai UN tertinggi di sekolah. Tapi, sifatku menjadi sangat tertutup, tidak mau ikut organisasi apapun, sehingga saat itu aku dikenal sebagai anak yang sangat sombong. Padahal, aku sama sekali tidak sengaja bersifat begitu.
Aku memang punya teman, tapi hanya sebatas kelasku saja. Aku sangat menyesal sekali, karena aku kehilangan kesempatan berkenalan dengan banyak teman dari kelas lain. Aku berharap, aku bisa memperbaiki sifatku menjadi lebih baik.
Setelah lulus, aku melanjutkan ke SMA Negeri 1 Amuntai. Aku berhasil masuk dengan nilai tertinggi dan hal inilah yang nantinya menjadi jalan bagiku untuk masuk OSIS. Ketika itu, aku sangat senang karena hal itu merupakan awal bagiku untuk berubah. Semoga saja.
Ketika kelas 1, aku kembali harus masuk X A, selalu A. Aku ikut banyak ekstrakurikuler, seperti KIR, Pramuka, Vokal Grup, tapi tidak untuk PMR, padahal aku sangat ingin ikut. Namun, jadwalnya bertabrakan dengan jadwal les. Aku juga berhasil ikut Olimpiade Biologi, dan berhasil masuk provinsi bersama kakak kelasku Khatimatun Najwah yang sekarang sudah kuliah di Fakultas Kedokteran Unlam. Aku terkejut, karena hal ini bukan targetku. Aku hanya berharap masuk 3 besar. Tapi, Alhamdulillah…
Di kelas 2, kegiatan eskulku semakin banyak. Aku menjadi coordinator Sekbid 5 (Seksi Organisasi, Pendidikan politik, dan Kepemimpinan), anggota Fospel, Ketua KIR, Anggota DKA. Aku makin sibuk dan makin kurus saja. Padahal pada saat MTs, aku adalah anak yang gendut.
Sekarang aku berada di kelas 3. Sungguh, berat sekali akan meninggalkan sekolah ini. Begitu banyak kenangan, begitu banyak peristiwa yang membuat hidupku berubah. Aku menemukan begitu banyak calon-calon pemimpin masa depan di sekolahku, seperti Chaironi Latif, Zayed Norwanto, Shandy Hidayat, Kak Budiman Rusadi, Kak Galih, Kak Slamet Budiyanto, dan banyak lagi. Aku juga menemukan calon-calon Ibu bangsa yang hebat, seperti Rosyi Amrina, Rusmini, Rajni, Rahmi, Rosyida, Mahriati, Eny, Eka, Wahdah, yang mengajariku banyak hal. Mereka orang-orang yang hebat, punya semangat dan penuh kerja keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar