Pahlawan Fenomena KERINGNYA prestasi mahasiswa UNLAM seluruhnya menjadi salah satu ironi yang sangat disayangkan. Betapa tidak, UNLAM memiliki sumber daya mahasiswa yang cukup besar dari segi jumlah maupun program studinya. Sama halnya dengan FK UNLAM, yang memiliki 5 program studi berbeda dan didalamnya terdiri atas mahasiswa pilihan yang berhasil mengalahkan banyak pesaing. Namun, keringnya prestasi mahasiswa UNLAM juga terlihat di FK. Faktanya cukup banyak, mulai dari sedikitnya jumlah peserta perlombaan DIESNA, hingga absennya mahasiswa FK UNLAM dalam ajang kompetisi tingkat regional ataupun nasional.
Mengapa hal ini terjadi? MINIMNYA partisipasi teman-teman dalam berbagai kompetisi diluar kompetisi akademis menjadi faktor utama. Mungkin teman-teman merasa TAK CUKUP WAKTU untuk melakukan hal lain selain belajar. Atau mungkin memiliki kesempatan untuk mengikuti perlombaan karena tidak tahu informasinya. Ya, memang tujuan kita berada di sini adalah kuliah, namun apakah hal itu harus menjadi alasan bagi teman-teman untuk mengurangi kreativitas dan inovasi yang dimiliki teman-teman? Sepertinya TIDAK.
MINIMNYA INFORMASI yang masuk juga menjadi faktor yang cukup berperan. Kebanyakan kompetisi regional dan nasional di publish di blog, ataupun media internet lain. Hal ini menyebabkan ketidaktahuan mahasiswa mengenai kompetisi yang sebenarnya mampu dia menangkan. Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan dengan PUBLIKASI BSO yang berwenang atau bahkan dari mahasiswa yang sering bermukim di dunia maya.
Mari kita bersama-sama meningkatkan eksistensi kampus kita dengan mengharumkan namanya di ajang REGIONAL ataupun NASIONAL. BERPRESTASI bukan hanya hak segelintir orang, tetapi berprestasi menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh mahasiswa. Akademik bukanlah halangan, jika kita mampu dan mau memanajemen waktu kita untuk memberikan yang terbaik bagi orang tua, teman-teman, kampus dan tentu diri kita sendiri.
Untuk itulah, FSIM FK UNLAM sebagai BSO yang bertanggung jawab dalam bidang keilmiahan mahasiswa FK memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi seputar kompetisi ilmiah. Walaupun FSIM baru memulai saat ini, FSIM berharap kita semua bisa memperbaiki keringnya prestasi FK UNLAM dan mampu memberikan kontribusi dalam eksistensi UNLAM sebagai sebuah Universitas yang diakui dan dikenal. Semoga UNLAM menjadi Universitas yang dikenal sebagai Universitas Lambung Mangkurat, bukan lagi disalahartikan sebagai Universitas Lampung. Mulailah dari diri kita, dan buktikan, kita adalah mahasiswa yang pantas berhasil dan berprestasi!
Bergabunglah bersama kami di grup FSIM FK UNLAM. Disanalah kami akan mempublikasi berbagai lomba yang mungkin menjadikan dirimu sebagai mahasiswa berprestasi. Atau kunjungi blog kami di fsimfkunlam.blogspot.com.
Salam Ilmiah!
Erna Yulida (divisi Ilmiah FSIM FK UNLAM)
Senin, 05 Desember 2011
Mahasiswa FK UNLAM Berprestasi,, Mungkinkah?
Minggu, 11 September 2011
Pahlawan
Siapa dia? Mereka?
Bukankah dia pembawa perubahan?
Ataukah pemberi keselamatan bagi kehidupan?
Apakah dia?
Pemberi kaki untuk melangkah
Pembawa kabar indah bagi yang susah
Ataukah hanya sosok besar tak tahu arah
Dipuja karena dirinya makhluk sempurna
Dielukan setiap abdi bagi kerajaannya
Hingga dia menjadi sang pahlawan
Makhluk kosong pembual
Benarkah dia?
Bukan! Dia tak patut kau sebut pahlawan
Karena dia hanya manusia seperti dirimu!
Bukankah dirimu lebih pantas darinya?
Kamulah pahlawan!
Bukan dia, mereka atau sosok lainnya
Pahlawan bagi dirimu, hidupmu, dan tujuanmu
Kamulah penentu akhir hidupmu, pembuat perubahan
Karena Tuhanmu, takkan mengubah hidupmu...
Jika kamu tidak berusaha mengubah hidupmu sendiri
*puisi yang ditulis dalam rangka lomba Forum Sastra Bumi Pertiwi...
walau g masuk,,semoga bermanfaat kalau dipublish di sini...:)
Jumat, 01 April 2011
Sebuah Kenangan untuk Sang Pejuang Pendidikan
Bapak,,
Begitu besar rasa sayang kami padamu
Namun tak sebesar jasa-jasamu untuk kami
Bapak selalu mengajarkan kami
Betapa hidup harus jadi berarti
Betapa pendidikan begitu penting untuk kami
Hingga kami mampu berdiri
Menatap, melangkah dan berlari menuju impian diri
Bapak,,
Kini kami mampu melangkah
Kini kami mampu berkarya
Mewarnai setiap kehidupan
Mengawali setiap perubahan
Terima kasih bapak…
Di setiap langkah kami
Di setiap kesuksesan yang terpatri
Di setiap karya emas ini
Di sanalah ada jasamu
Terima kasih bapak
Mungkin kata apapun yang terucap
Tak sanggup mewakili
setiap tetes peluh Yang telah kau berikan untuk kami
Tak sanggup menggantikan
Setiap waktu yang kau habiskan bersama kami
Namun yang pasti…
Dirimu tak terganti…
*31 Maret 2011...
ditulis untuk Bpk. Humam Sangaji, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Amuntai...
Terima kasih Bapak...
Kamis, 10 Maret 2011
Pengalamanku di tahun pertama FK

Setelah hampir 2 tahun ku berada di sini, q mulai menyadari bahwa banyak hal yang telah aku dapat dari sini. Mulai dari kehidupan kampus, sampai kehidupan social di pondokan. Kadang aku jenuh dengan semua ini, tapi kadang ku sangat bersyukur berada di sini, sebagai mahasiswa fakultas kedokteran, satu hal yang banyak diimpikan orang.
Ada banyak hal yang sangat ku kagumi disini. Begitu banyak, hingga akupun tak bisa mengungkapkan semuanya. Hanya ingin berbagi, tentang blok-blok yang kujalani selama ini.
1 tahun pertama…
Blok 1 respirasi
Saat itu, aku masih terikat masa lalu yang begitu indah, sehingga ku selalu mengeluh di blok ini. Selain itu, jujur aku minder dengan semua ini. Betapa tidak! There are many people that very smart n rich! Tidak sepertiku, yang tertatih untuk mencapai akhir dari sebuah awal pendakianku.
Aku mulai mengenal Anatomi. Saat-saat mendebarkan itu masih ku ingat. Sejujurnya aku takut, membayangkan aku tidak hanya akan melihat mayat, tapi juga memegang, meneliti bahkan memotong mayat. Istilah pertama yang aku tahu adalah cadaver. Cadaver adalah bahasa kerennya mayat. Setidaknya istilah ini membuat pikiran ini menjadi lebih tenang.
Back to anatomy. Hari itu, aku menggunakan jas lab. 1 hal yang sekarang sudah sangat biasa. Aku masuk dengan jantung berdebar keras, maklum, aku tidak pernah melihat hal ini sebelumnya. Dan ketika aku melihatnya, aku terdiam dan berpikir, ternyata begitulah bentuk organ manusia, tidak seperti yang kulihat di Sobotta yang begitu berwarna dan rapi. Dan aku pun belajar 1 hal, dunia tak seindah khayalan, sehingga kita harus melihat dunia dengan khayalan agar kita bisa mengerti tentang keindahan dunia itu sendiri.
Respirasi, yang aku kenal dengan system pernafasan. Di sini aku belajar tentang nasi, pharynx, larynx, trachea, broncus dan derivate-derivatnya, serta pulmo. Nasi (hidung), hal yang penting di sini adalah adanya concha dan meatus nasi yang membuat turbulensi udara agar udara yang masuk ke bagian selanjutnya agak lebih bersih. Di nasi juga ada mukosa yang membuat kotoran agar nempel. Selain itu, terdapat larynx, tempat ajaib yang menimbulkan alunan indah suara kita. Aku takjub melihat benda ini. Plica vocalis, benda imut tapi ajaib. Begitu hebatnya Sang Pencipta, yang menciptakan 2 lipatan kecil yang harusnya digunakan untuk selalu menyebut asma-Nya.
Fisiologi menempati tempat kedua masa itu. Aku memiliki kenangan unik tentangnya. Mbah Guyton, buku tebal berwarna merah dan isinya penuh tulisan kecil-kecil. Buku ini aku sebut buku Dewa, sebab dengan hanya mendalami buku ini setiap bloknya, kamu akan resmi dinobatkan sebagai dewa. Sayangnya, entah kenapa stiap kali melihat buku sacral ini, aku pun mulai merinding g jelas…hahahai
Blok 1 bulan ini sarat makna. Apalagi dalam perubahan kepribadianku. Saat ini ku sadari, kehidupan masa laluku begitu penuh kesombongan, begitu penuh kebencian. Entahlah, aku sadar sekarang, langkahku masih jauh, dan takkan ada akhirnya. Aku sekelompok dengan teman-teman yang unik dan cerdas, salah satunya bahkan peraih nilai tertinggi SNMPTN. Syukurlah saat itu aku belum menyadarinya…
Blok ini berakhir dengan kejutan besar, pengumuman kelulusan ujian blok. Hanya 12 orang dari 89 orang yang lulus, dan termasuk aku. Aku bahagia, senang, gembira dan ria (ap maksudna selebai ini). Tapi, kehidupan sosialku berubah sejak saat itu.
NB:
Aku masuk kelompok 6 dengan anggota Krisna Augustian, Ginta Aldamar, Chandra Isrami, Aditya Norrahman, Ramza Shiddiq Asyary,Rizkya Maulida, Desita Permatasari, Maria Fransisca Allemina Tarigan, Aprilia Dwi Lestari, Annisa Aviciena, Aku sendiri, dan Fitri handayani (pindah setelah diterima di STIS)
Blok 2 Kardiovaskuler (kardio pas KulEr!)
Fiuhhhh, blok ini bkin stress. Betapa tidak, semua orang terasa mengambil siaga satu terhadapku. Seakan-akan aku tsunami yang akan menyapu habis mereka. Kelompokku lumayan rame, kecuali 1 orang, Dewa Rino. Riky Novriansyah Wibowo, lebih dikenal dengan Walking Guyton adaah jelmaan dari Mbah Guyton masa kini. Pintar dan lumayan… kalo menurutku. Tapi nasibku sangat jelek blok ini, karena sepanjang tutorial, aku selalu dibantai sehingga jatuh ke jurang yang terdalam. Mulai blok inilah aku menyadari betapa pentingnya tutorial.
Tutorial, atau yang biasa kita sebut diskusi panas dan beraroma pembunuhan. Disaat pertama masuk blok ini, aku memang belum kenal teman-teman semua, tapi sepertinya mereka mengenaliku karena tagedi ujian blok 1. Tatapan mata dewa itu,, tak pernah kulupakan sampai hari ini. Aku sangat takut menyadari bahwa kehidupan tutorial bulan ini akan berakhri tragis.
Satu-satunya penyelamat blok itu adalah embriologi. My lovers Langman, buku merah,imut (walau setebal Harry Potter), dan sangat friendly untukku. Aku mulai jatuh hati padanya sejak blok ini. Aku menyadari, bahwa aku tidak mungkin menjelaskan Guyton terbata-bata, sehingga ku piker tak ada salahnya ku coba Langman. Dan, sejak itulah aku dijuluki Walking Langman. Tapi satu yang tidak pernah ada yang tahu. Aku menyukai Langman karena dewa itu. Terima kasih rino, kau telah membantuku menemukan cinta sejatiku.
Makna blok ini adalah Cor, jantung. Aku menemukan asdos yang hebat, Adellia Anggraini Utama. Penjelasannya rinci, seakan-akan dialah pencipta sobotta. Hari itu, aku diajarkan berbagai macam istilah anatomi yang sangat menarik. Yang paling ku ingat adalah valve tricuspid dan valve mitralis. Begitu kecil dan tipis katup itu, begitu terlihat sederhana, tapi sangat sarat manfaat.
Di blok ini, aku memulainya dengan penuh kecurigaan, takut dan sangat rendah diri. Namun ku mengakhirinya dengan percaya diri. Minggu itu adalah minggu penuh ujian skill lab. Pemeriksaan tanda vital dengan dr.Edison, sangat memukau. Aku sangat takut saat itu, karena beliau terkenal perfect sehingga aku yang selalu merasa gugup ini menjadi ciut. Tapi hari itu berakhir dengan baik, karena hanya akulah satu-satunya yang berhasil sempurna di mata beliau.
Ujian skill lab dilanjutkan dengan pemeriksaan jantung dasar bersama dr. alfi. Hari itu aku berhasil menyamakan angka dengan dewa rino dan mendapatkan angka seratus. Sungguh sangat melegakan. Walaupun dengan susah payah aku mengejar dirinya saat tutorial, akhirnya aku bisa menyamakan langkah dengannya. Thanks God.
Blok ini berakhir dengan ujian blok kardio. Ujian ini, aku sangat unconfident, karena begitu banyak hal yang belum ku pelajari untuk ini. Dan akhirnya, dengan penuh kepasrahan, ku serahkan semuanya pada Allah. Benar-benar tanpa persiapan. Dan syukurlah aku lulus walau dengan gemilang. Alhamdulillah…
NB.
Aku menempati kelompok 2 dengan anggota Muhammad fariz, Ara Bhakti Budiman, M. Aulia Rahman, Ginta Aldamar, Riky Novriansyah W., Devita Sekar Nastiti, Olivia Valentine, Laili Agustina, Maria Fransisca A,Niar Sari A. Putri dan aku sendiri.
Blok Musculoskeletal (blok penuh makna dan kebanggan)
Blok 3, aku mulai dengan harapan bahwa aku bisa lebih baik dari saat ini. Blok ini dimulai dengan beberapa kekecewaan atas nilai blok kardio yang membuatku terpaksa bangun dari kenyamanan tidurku. Mmm, musculoskeletal, blok yang mengajariku betapa banyak hal yang membuat kita bisa berjalan hingga saat ini. Bagaiman kita bisa bergerak, berjalan, bahkan hanya sekedar menggaruk kepala, semua itu membutuhkan koordinasi dari otot tubuh yang sangat rumit. Belum lagi, mempelajari bagaimana keinginan yang ditimbulkan di otak berupa impuls disalurkan ke otot dan menghasilkan sebuah gerakan. Hal ini sangat mengagumkan.
Anatomi yang sangat mengesankan. Melalui guru terbaikku sang cadaver serta bimbingan kak Imam Syahuri Gultom, aku mempelajari musculus yang sangat banyak. Di bagian extremitas superior saja, aku telah menemukan banyak otot. Untuk menggerakkan 1 ibu jari saja, ada banyak otot yang harus bekerjasama. Betul-betul ciptaan Allah yang tiada duanya. Di ekstremitas inferior, aku menemukan musculus soleus yang begitu sempurna didesain agar kita bisa berdiri dengan sempurna dan dapat bertahan cukup lama. Subhanallah, begitu kompleks, hingga banyak temanku yang harus lebih gila belajar agar dapat lolos dari ujian yang penuh ‘ujian’ ini.
Di blok ini, aku mulai mencintai sobotta. Entah kenapa, buku itu mulai memikatku setelah 2 bulan tak pernah ku perhatikan. Namun, Sobotta hanyalah sebagai teman, bukan kekasih seperti Langman. Hehe,, ternyata cintaku cinta yang sejati! :D
Dalam kelompok, aku sangat bahagia. Kelompok ini sangat solid, sebab dalam tutorial dan skill lab, kami selalu melaluinya dengan santai dan tanpa tekanan. Tidak seperti blok lalu, yang lumayan mengerikan. Tidak ada beban mental selama ada di blok ini. Dalam tutorial, yang dibahas tidak melenceng dari blue print soal dan semuanya tidak menghaapkan nilai terlalu muluk.
Disini pula, aku masuk rumah sakit. Hal ini mungkin disebabkan kelelahan karena perjalanan jauh dan jadilah aku sakit pada saat ujian anamnesis. Syukurlah, ujian blok dimajukan sebelum liburan, sehingga aku tidak ketinggalan. Blok ini, aku menemukan kesetiakawan teman-teman di kos, maupun teman-teman seangkatan. Mereka sangat prhatian dan berusaha meringankan bebanku. Sungguh sangat mengharukan.
Daaan,, untuk ujian blok, aku mendapat nilai tertinggi bersama Syella. Sangat membanggakan, mengingat aku sangat tidak fit saat itu. Syukurlah, aku bisa menjadi seperti yang aku harapkan di blok ini.
NB.
Kelompok 2 lagi,, dengan anggota Muhammad Fariz, Aditya Azhari, Redha Ramadhana Habiby, Hari Subagyo, Fajar Gemilang R, Fatimah Rizky F, Nadya, Afrilya Christy, Khairunnisa, Nur Aida Fitria, dan Aku sendiri.
Blok 4 Digestif (Last Blok, Last Fight)
Akhirnya, aku memasuki blok terakhir untuk semester ini. Begitu menggelikan, setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku malah menjadi begitu bersemangat dengan apa yang akan terjadi. Aku menjadi ingin berjuang sekali lagi, untuk ayah, ibu, serta diriku sendiri. Blok terakhir ini, aku bertekad untuk memberikan nilai maksimal dengan usaha yang maksimal pula.
Blok ini unik, karena di blok inilah aku pertama kali bertemu Farmakologi. Begitu aneh, karena obat adalah benda yang paling aku takuti, dan paling aku jauhi. Tapi sekarang, aku malah harus mempelajarinya. Akhirnya aku mendapatkan pembenaran dari semua yang aku perjuangkan selama ini, bahwa obat adalah racun, dan jangan meminumnya kecuali kamu sangat-sangat membutuhkannya.
Aku mulai belajar farmakokinetika, mulai dari absorpsi obat, distribusi, metabolism hingga ekskresi obat. Hal ini yang sangat menentukan apakah obat itu diminum secara oral, disuntikkan, atau diinjeksikan lewat intravena. Juga apakah obat itu diserap di saluran pencernaan, apakah mengalami metabolisme di hepar, atau bahkan langsung bekerja di jaringan target. Apakah obat itu lama beredar di tubuh, sangat lama, atau singkat dan keluar lewat urin, feses, atau keringat. Hal itu kami pelajari bulan ini.
Mmm,, yang lainnya, semuanya sama saja. Tapi begitu berarti, sebab aku begitu menikmatinya. Dalam tutorial, aku sangat terhibur sekaligus tertantang, sebab bulan ini aku bertemu orang-orang yang asyik dan sangat kompetitif. Untuk skill lab, lumayanlah..
Ujian blok,, begitu menggila. Kemungkinan karena kami juga harus menghadapi ujian final KWN dan agama, sehingga blok ini menjadi cukup padat. Walaupun begitu, aku sangat bersemangat, karena sebentar lagi aku akan liburan.
Akhirnya, nilai blok keluar. Aku harus puas dengan nilai blok 1 dan 2 B+, 3 dan 4 A, serta KWN B+ dan Agama A, sehingga IPku menjadi 3, 75. Walaupun tidak sesuai harapanku, yaitu 4, tapi sangatlah membanggakan.
Minggu, 02 Januari 2011
Surat Kaleng Untuk Bunda
Banjarbaru, 22 Desember 2010
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bunda,, surat ini untukmu…
Bagaimana keadaan Bunda di sana? Maafkan anakmu yang tidak bisa kembali ke pangkuanmu, walaupun hati sangat ingin. Maafkan anakmu karena tak bisa terlihat dalam jarak pandangmu, tak bisa mendengar nasihatmu dan tak mampu menatapmu. Tapi yakinlah, anakmu akan selalu berada didekatmu. Bunda, mungkin Bunda kaget dengan hadirnya surat ini, surat pertama dariku. Surat yang isinya seharusnya dia sampaikan langsung padamu.
Anakmu baik-baik saja.
Terima kasih Bunda telah mengizinkannya berlari mengambil impiannya, Insya Allah. Dia sudah belajar banyak di sini. Dia telah mengerti banyak hal yang sebelumnya hanya bisa dia lihat. Dia masih berusaha menapak jalan menuju impian dia dan dirimu, menjadi seorang dokter. Kuharap, Bunda selalu mendoakan setiap langkah itu, agar langkah itu menjadi bermakna di hadapan Sang Ilahi.
Anakmu sering bercerita padaku tentang dirimu. Dia juga mengatakan ucapanmu yang selalu dia tulis di memori dan buku-bukunya, “Nak, kamu tak perlu menjadi yang terbaik di sana, tak perlu mengejar angka terbaik. Cukuplah banggakan Bunda dengan selalu berusaha dan tetap menjadi anak yang berbakti, menjaga auratmu dan berhati-hatilah dalam bergaul.”
Ku teringat saat dia tiba-tiba sakit. Malam itu, dia merahasiakannya darimu. Bunda sempat meneleponnya dan bertanya padanya tentang kesehatannya. Dia bilang dia baik-baik saja, tapi Bunda tetap tak percaya. Dan paginya, anakmu masuk rumah sakit karena sakit parah dan dia terpaksa meneleponmu untuk meminta maaf karena telah berbohong. Namun, ternyata kamu sedang dalam perjalanan dari Amuntai menuju Banjarbaru karena khawatir. Luar biasa, Bunda! Nalurimu begitu kuat, sehingga kamu datang di saat yang tepat.
Kamu merawatnya di rumah sakit. Saat itu aku menyaksikan kasih sayang yang begitu besar dari Bunda. Bunda menangis di hadapannya dan membelainya dengan penuh kelembutan. Anakmu, yang saat itu sedang terbaring di UGD, dengan tusukan Surflo pada vena, dihubungkan selang menuju sebotol infuse yang tergantung di tempatnya. Aku saat itu juga merasakan , betapa nalurimu begitu takut kehilangannya.
Betapa besar pengorbananmu untuk anakmu. Aku telah melihatmu selama 19 tahun mengajar, mendidik, serta menyayanginya dengan seluruh kemampuanmu. Bahkan kamu membiarkannya tidak membantumu di warung, demi melihat dia sukses mencapai segudang impiannya. Aku marah, karena anakmu begitu kurang ajar membiarkanmu bekerja mencari nafkah yang sebenarnya kamu perjuangkan untuknya.
Selama 19 tahun pula, aku geram melihatnya yang sering membentakmu dan membangkang dari nasihatmu. Aku geram, mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Jujur, tidak seharusnya seorang anak membentak orang tuanya sendiri, walaupun kata-kata itu keluar secara tidak sengaja. Namun, jauh di dalam dirinya, aku tahu dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padamu. Atas nama anakmu, aku meminta ampunan dari Bunda, karena dia masih perlu bimbingan serta perhatianmu.
Selamat Hari Ibu, Bunda…
Hari ini, tepat 1 hari setelah hari ulang tahunmu. Tepat 1 hari setelah kelahiran sosok Bunda yang luar biasa. Bunda, yang mampu memberikan kehangatan dan kehidupan untuk anak-anaknya. Anak-anak yang telah memulai hari sebagai embrio dalam rahimmu, keluar sebagai individu, menjadi dewasa, hingga akhirnya akan menyandang status sepertimu. Anak-anak, yang seharusnya menjagamu seperti kamu menjaga mereka sepenuh hati.
Maafkan anakmu, Bunda…
Tak pantas dia mengucapkan Selamat Hari Ibu melalui telepon atau pesan singkat. Tak pantas dia mengungkapkan sayang dengan cara seperti ini. Tapi percayalah, di hatinya selalu ada dirimu, seperti halnya di hatimu ada dirinya. Dia selalu memperhatikan Bunda, dengan menatap siluet sosokmu yang diam terpajang di dinding kamarnya. Dia selalu berusaha membanggakanmu lewat seluruh usaha, sekalipun dia tahu, usahanya takkan mampu membayar kasih sayang yang kau berikan. Tapi, aku berharap Bunda selalu bangga padanya.
Melalui surat ini, kusampaikan cinta kasih terbesar dari anakmu. Dia begitu malu, hingga dia tak mampu menulis sendiri surat ini. Di sini juga kulampirkan bingkisan tanda cintanya untukmu. Walaupun kehadirannya di sisimu adalah hadiah terbesar.
Bingkisan ini memang sederhana, tapi aku yakin Bunda bisa melihat betapa besar rasa cintanya pada Bunda. Dia juga berpesan,
“Bunda, selamat Hari Ibu, yaaa. Doakan saya agar dapat menggapai cita, menggenggam stetoskop, dan memakai jas putih impian kita”
Mungkin Bunda bingung, siapa aku sebenarnya. Tak perlu Bunda bertanya pada siapapun, sebab aku hanyalah aku. Aku selalu berada bersama anakmu dan selalu berada didekatmu, Bunda…
Karena aku adalah bentuk cinta dari anakmu untukmu…
Note:
happy mother’s day for the mother all over the world
Thanks for her that give us life, give us light, give us love, give us smile.
Your love never dies, until we die, until the world dies.
Jumat, 25 Desember 2009
Buku BUku
Kita semua pasti punya buku kan? Buat apa sih buku?
Kita pasti tau, apa gunanya buku. Tapi g semua orang tau gimana cara ngerawat buku, termasuk saya sendiri. Tapi, sekarang saatnya memperbaiki diri. Sayang kan, buku kita jadi rusak. Gimana caranya? Simak deh
1. Sampul bukumu!
Nah, ini kudu banget. Apalagi buku-buku yang penting. Sayang kan, buku kesayangan covernya kucel. Buku yang disampul memperlambat kerusakan buku. Jangan sampai buku kamu rusak, apalagi jika itu adalah buku karangan kamu yang telah terbit.
2. Jangan letakin bukumu di tempat yang lembab
Kalo kamu punya lemari buku khusus, usahakan tidak terlalu rapat dan memiliki jendela atau lubang keluar, agar buku tidak lembab.
3. Jangan dilipat kalo pengen membatasi
Kalo pengen membatasi buku, pakailah pembatas buku yang tipis dan tidak mengganjal. Usahakan jangan menggunakan pensil apalagi melipat halaman tersebut.
4. Tutuplah buku setelah dibaca
Biasanya neh, baca buku t bikin ketiduran. Jangan sampai kamu meninggalkan buku kamu dalam keadaan terbuka. Tutuplah buku, ketika selesai membaca.
5. Jika bukumu kena air, jemurlah ditempat yang tidak terkena matahari langsung, sebab jika dijemur di terik matahari, kertas pada buku kamu akan bergelombang.
Buku adalah sahabat yang paling baik. Buku memberimu segala pengetahuan, tanpa harus memohon padanya. Cukup kamu baca aja. Sudah sepantasnyalah kamu memperlakukannya dengan baik.


.jpg)
