Banjarbaru, 22 Desember 2010
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bunda,, surat ini untukmu…
Bagaimana keadaan Bunda di sana? Maafkan anakmu yang tidak bisa kembali ke pangkuanmu, walaupun hati sangat ingin. Maafkan anakmu karena tak bisa terlihat dalam jarak pandangmu, tak bisa mendengar nasihatmu dan tak mampu menatapmu. Tapi yakinlah, anakmu akan selalu berada didekatmu. Bunda, mungkin Bunda kaget dengan hadirnya surat ini, surat pertama dariku. Surat yang isinya seharusnya dia sampaikan langsung padamu.
Anakmu baik-baik saja.
Terima kasih Bunda telah mengizinkannya berlari mengambil impiannya, Insya Allah. Dia sudah belajar banyak di sini. Dia telah mengerti banyak hal yang sebelumnya hanya bisa dia lihat. Dia masih berusaha menapak jalan menuju impian dia dan dirimu, menjadi seorang dokter. Kuharap, Bunda selalu mendoakan setiap langkah itu, agar langkah itu menjadi bermakna di hadapan Sang Ilahi.
Anakmu sering bercerita padaku tentang dirimu. Dia juga mengatakan ucapanmu yang selalu dia tulis di memori dan buku-bukunya, “Nak, kamu tak perlu menjadi yang terbaik di sana, tak perlu mengejar angka terbaik. Cukuplah banggakan Bunda dengan selalu berusaha dan tetap menjadi anak yang berbakti, menjaga auratmu dan berhati-hatilah dalam bergaul.”
Ku teringat saat dia tiba-tiba sakit. Malam itu, dia merahasiakannya darimu. Bunda sempat meneleponnya dan bertanya padanya tentang kesehatannya. Dia bilang dia baik-baik saja, tapi Bunda tetap tak percaya. Dan paginya, anakmu masuk rumah sakit karena sakit parah dan dia terpaksa meneleponmu untuk meminta maaf karena telah berbohong. Namun, ternyata kamu sedang dalam perjalanan dari Amuntai menuju Banjarbaru karena khawatir. Luar biasa, Bunda! Nalurimu begitu kuat, sehingga kamu datang di saat yang tepat.
Kamu merawatnya di rumah sakit. Saat itu aku menyaksikan kasih sayang yang begitu besar dari Bunda. Bunda menangis di hadapannya dan membelainya dengan penuh kelembutan. Anakmu, yang saat itu sedang terbaring di UGD, dengan tusukan Surflo pada vena, dihubungkan selang menuju sebotol infuse yang tergantung di tempatnya. Aku saat itu juga merasakan , betapa nalurimu begitu takut kehilangannya.
Betapa besar pengorbananmu untuk anakmu. Aku telah melihatmu selama 19 tahun mengajar, mendidik, serta menyayanginya dengan seluruh kemampuanmu. Bahkan kamu membiarkannya tidak membantumu di warung, demi melihat dia sukses mencapai segudang impiannya. Aku marah, karena anakmu begitu kurang ajar membiarkanmu bekerja mencari nafkah yang sebenarnya kamu perjuangkan untuknya.
Selama 19 tahun pula, aku geram melihatnya yang sering membentakmu dan membangkang dari nasihatmu. Aku geram, mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya. Jujur, tidak seharusnya seorang anak membentak orang tuanya sendiri, walaupun kata-kata itu keluar secara tidak sengaja. Namun, jauh di dalam dirinya, aku tahu dia merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padamu. Atas nama anakmu, aku meminta ampunan dari Bunda, karena dia masih perlu bimbingan serta perhatianmu.
Selamat Hari Ibu, Bunda…
Hari ini, tepat 1 hari setelah hari ulang tahunmu. Tepat 1 hari setelah kelahiran sosok Bunda yang luar biasa. Bunda, yang mampu memberikan kehangatan dan kehidupan untuk anak-anaknya. Anak-anak yang telah memulai hari sebagai embrio dalam rahimmu, keluar sebagai individu, menjadi dewasa, hingga akhirnya akan menyandang status sepertimu. Anak-anak, yang seharusnya menjagamu seperti kamu menjaga mereka sepenuh hati.
Maafkan anakmu, Bunda…
Tak pantas dia mengucapkan Selamat Hari Ibu melalui telepon atau pesan singkat. Tak pantas dia mengungkapkan sayang dengan cara seperti ini. Tapi percayalah, di hatinya selalu ada dirimu, seperti halnya di hatimu ada dirinya. Dia selalu memperhatikan Bunda, dengan menatap siluet sosokmu yang diam terpajang di dinding kamarnya. Dia selalu berusaha membanggakanmu lewat seluruh usaha, sekalipun dia tahu, usahanya takkan mampu membayar kasih sayang yang kau berikan. Tapi, aku berharap Bunda selalu bangga padanya.
Melalui surat ini, kusampaikan cinta kasih terbesar dari anakmu. Dia begitu malu, hingga dia tak mampu menulis sendiri surat ini. Di sini juga kulampirkan bingkisan tanda cintanya untukmu. Walaupun kehadirannya di sisimu adalah hadiah terbesar.
Bingkisan ini memang sederhana, tapi aku yakin Bunda bisa melihat betapa besar rasa cintanya pada Bunda. Dia juga berpesan,
“Bunda, selamat Hari Ibu, yaaa. Doakan saya agar dapat menggapai cita, menggenggam stetoskop, dan memakai jas putih impian kita”
Mungkin Bunda bingung, siapa aku sebenarnya. Tak perlu Bunda bertanya pada siapapun, sebab aku hanyalah aku. Aku selalu berada bersama anakmu dan selalu berada didekatmu, Bunda…
Karena aku adalah bentuk cinta dari anakmu untukmu…
Note:
happy mother’s day for the mother all over the world
Thanks for her that give us life, give us light, give us love, give us smile.
Your love never dies, until we die, until the world dies.
Minggu, 02 Januari 2011
Surat Kaleng Untuk Bunda
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar